Ditjen Migas Fokus Petakan Potensi Energi di Indonesia Timur

7



Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) menyiapkan kapal berteknologi canggih guna memetakan potensi energi yang tersimpan di laut Indonesia, terutama di wilayah timur.

Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan wilayah Indonesia timur masih memiliki banyak titik buta yang belum terpetakan potensi laut dalamnya.

Kehadiran Kapal Riset Geomarin III diharapkan bisa menjadi solusi permasalahan tersebut. Saat ini, kapal itu baru diuji coba di Selat Sunda, namun ke depannya, kapal tersebut akan disiapkan untuk penelitian identifikasi cekungan sedimenter yang bisa mendukung penyiapan wilayah kerja minyak dan gas bumi di Perairan Arafura, Papua dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) di perairan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di sisi lain, Kapal Riset Geomarin III yang saat ini masih memiliki kabel seismik sepanjang 700 meter, merupakan satu-satunya kapal yang dimiliki Indonesia yang mampu memetakan potensi dasar laut melalui survei seismik.

“Data seismik tersebut akan ditawarkan kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) sebagai indikasi awal pelelangan Wilayah Karya (WK) yang akan diajukan, panjang kabel seismik saja ditambah hingga enam ribu meter,” kata Dirjen Migas Ego Syahrial kepada Antara dalam uji coba Kapal Geomarin III di Selat Sunda, Minggu (6/8).

Saat ini Kapal Geomarin III dapat memberikan gambaran potensi gas dan minyak ataupun kandungan mineral dengan tampilan dua dimensi.

“Dua dimensi sudah bagus, tapi belum cukup, karena standard untuk kepentingan migas adalah tiga dimensi, sehingga investor lebih tertarik serta dapat gambaran lokasi secara detail,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan peningkatan kemampuan Geomarin III ditargetkan bisa dilakukan hingga akhir 2017.

“Saat ini sedang ditingkatkan kemampuannya, dan hal tersebut membutuhkan investasi sebanyak Rp70 miliar,” kata Sutijastoto.

Selain itu, jika ingin meningkatkan secara keseluruhan untuk memberikan data detail pemetaan migas di lautan Indonesia, dibutuhkan nilai investasi sebesar Rp300 miliar agar kapal seismik tersebut memiliki kemampuan pemetaan berstandard internasional.

Selama ini investor selalu menggunakan pihak ketiga untuk mendapatkan data identifikasi, saat ikut lelang sebagai operator Wilayah Karya (WK).

Ke depannya, diharapkan investor bisa menggunakan data survei dari kapal Geomarin III yang dimiliki Kementerian ESDM. Alasannya, agar data dapat dimiliki Indonesia secara langsung tanpa diketahui pihak ketiga yang disewa investor.

“Diharapkan KKKS atau investor dapat memanfaatkan data tersebut secara resmi melalui Kementerian ESDM sebagai paket lelang WK,” sebut Sutijastoto.



Source

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here